Mungkin bagi yang sudah membaca artikel saya tentang Journey in Business Administration, saya sempat mention kalau saya terkena DBD. Bukan Dead by Daylight game, tapi DBD penyakit. Demam Berdarah Dengue, selama 18 tahun hidup di bumi ini, belum pernah tau sebelumnya rasanya terkena DBD.

Demam biasa mungkin udah sering sebelumnya. Bagi cowok, demam biasa saja udah kayak “sekarat” kalau bahasa lebaynya. Tapi memang, dipikir-pikir lebih tersiksa demam dibandingkan penyakit lain. Demam saja sudah kacau, gimana demam berdarah. Dan pada akhirnya, akhir Agustus 2024 saya merasakan sendiri. H-2 menjelang PKKMB Telkom University tahun 2024 saya divonis terkena demam berdarah oleh dokter.

Coba saya rewind beberapa hari sebelum saya terkena DBD, 26 Agustus 2024 saya berangkat ke Bandung. Berangkat untuk stay lama menjelang perkuliahan saya. Saya diantar Kang Angga dan papap naik Hiace. Saya bawa banyak barang pribadi, pakaian pribadi, dan perabotan untuk isi rumah kontrakan nanti. Sembari berangkat dari Bekasi, saya mengisi waktu perjalanan dengan mengisi profil Linkedin saya. Biar kayak orang ambis aja Linkedin keisi wkwkwk.

Tiba di Buah Batu, sebelum ke rumah kontrakan, saya, papap, dan Kang Angga mampir ke Transmart Buah Batu dekat rumah. Papap beli sepeda, dan beli perabotan tambahan untuk di rumah. Sampai rumah langsung unpacking barang dari mobil dan merapikannya. Saat itu rumah masih terasa dingin hawanya, bukan dingin dalam artian horror, tapi emang dingin. Gimana nggak dingin, jendela kamar saya itu bolong dan langsung kena angin dari luar. Ditambah selama ini hidup di planet Bekasi yang mataharinya ada 3 ya kaget ngerasain angin Bandung.

Berlanjut hari kedua di Bandung, 27 Agustus 2024. Pagi pukul 06 terasa kayak di Yurop kalo kata anak Gen Z. Dinginnya di bawah 20 derajat, bahkan nyentuh 18 derajat. Hal yang terbilang langka di planet Bekasi. Pagi hari diisi santai, sarapan nasi uduk, sembari menunggu teknisi wifi datang. Siangnya 2 orang teknisi dari perusahaan merah datang, tak butuh waktu lama langsung siap wifinya. Setelah siap langsung saya pakai untuk menyiapkan tugas PRA-PKKMB saya, yakni bikin video TikTok dan… main Valorant :D.

Esoknya, 28 Agustus 2024. Saya diajak teman saya untuk daftar menjadi anggota AIESEC. Salah satu organisasi kelas internasional yang bergengsi. Sudah tak asing di telinga kawan-kawan mahasiswa sebaya, saking terkenalnya. Hari itu tidak terlalu sibuk, hanya mempersiapkan atribut untuk PKKMB. Seperti headband, nametag, dan juga pakaian.

29 Agustus 2024, H-1 sebelum terkena penyakit yang datang entah darimana. Hari itu ada jadwal first meet, bertemu teman-teman kelompok saya yang nantinya akan jadi teman kelas di Telkom University. Siangnya sebelum berangkat first meet saya sempat Discord-an dengan teman.

Ba’da Ashar langsung berangkat ke kampus. Naik apa? Naik sepeda yang dibeli di Transmart beberapa hari lalu. Sebenarnya mau naik motor, tapi saat itu motor yang baru tiba dari Bekasi via paket cargo itu bensinnya dikeluarkan pihak ekspedisi. Mungkin alasannya supaya gak bocor saat di perjalanan. Tapi masalahnya nggak dibalikin lagi ke motornya. Rencana awal ingin beli bensin eceran di warung pinggir jalan tapi tidak ketemu. Karena saya masih asing juga dengan wilayah Bojongsantos jadi saya putuskan langsung berangkat ke Telkom saja.

Setibanya di Telkom, itu kayak asing banget. Ini titik kumpulnya dimana gatau, bahkan harus cari di Google Maps. Setelah struggle cari lokasi tikum, akhirnya bertemu dengan beberapa teman kelas. Mulai kegiatan first meet dengan kenalan satu sama lain, bareng dengan dua LO kita. Setelah itu kita diberi tugas untuk menyiapkan papan nama kelompok kita. Gampang sih cepat selesainya… karena yang buat yang cewek-cewek wkwkwk. Cowok terima jadi aja sebenarnya.

Selesai semua yang harus disiapkan, foto bersama sebelum pulang. Waktu menunjukkan hampir pukul 6 sore. Saya pulang naik sepeda menuju rumah melewati jalan Bojongsoang yang sangat damai itu :p. Banyak truk mengeluarkan asap vulkanik, motor sana sini, mobil juga, rame pokoknya. Mulai masuk daerah Podomoro badan mulai terasa capek, “oh mungkin karena jarang naik sepeda”. Tapi saya pikir lagi, 2 bulan terakhir saya gym, mungkin drop karena kecapean.

Nafas semakin tergesa-gesa, saya berhenti sejenak di Indomaret Podomoro. Beli air minum, dan sekotak teh. Sembari azan Maghrib, saya minum sejenak di parkiran Indomaret Podomoro. Setelahnya langsung saya berangkat lagi ke rumah, angin terasa lebih menusuk. Gowesan sepeda terasa lebih berat, jarak 1 km terasa lebih jauh kala itu.

Tiba juga di rumah, nafas tergesa-gesa, disambut dengan sekotak nasi bebek dengan sambal yang menggoda. Maghriban dulu, lalu langsung santap nasi bebek itu karena perut udah bunyi. Malam itu diisi dengan Valorant, seperti biasa. Namun badan mulai terasa aneh, biasanya nggak mengigil tapi malam itu terasa beda. “Oh mungkin dingin biasa, pake jaket aja ah!” sambil mengambil satu jaket rajut tipis. Tapi bukannya meredup, malah tambah menusuk. Dan kepala rasanya mulai goyang. Alhasil, saya “cabut” duluan dari Discord.

Mulai memejamkan mata, sambil berdoa semoga cuman mengigil biasa. Detik berlalu, menit berlalu, badan terasa lebih ditusuk. AC mati, selimut double, jaket double, dan kaos kaki 2 pasang. Satu pasang dipakai di kaki, satu lagi di tangan (jadi sarung tangan). Tapi semua itu masih gagal menahan dingin malam itu. Saya paksakan untuk merem saja. Berhasil, namun kebangun di jam 2 dini hari. Karena dirasa semakin kacau, saya langsung buka handphone. Dengan tangan gemetar, saya cari kontak papap di Telegram lalu menelponnya. Untungnya diangkat, karena posisi saat itu badan sudah lemas sekali. Dan tidak kuat jika saya harus ke atas untuk menghampiri papap yang tidur di lantai 2.

Datanglah papap sambil bawa termometer digital. Pas dicek, 40 derajat celcius. Pertama kalinya selama 18 tahun menyentuh suhu 40 derajat. Itu tidak normal sama sekali karena demam biasa mentok 38-39 derajat biasanya, itu juga udah parah. Lah ini kepala 4. Karena dirasa tidak benar, langsunglah order Gocar saat itu. Alhamdulillah langsung dapat cepat. Sambil nunggu Gocar datang, saya sempat minum obat yang ada saat itu, yakni Sanmol. Dengan harapan mereda suhunya.

Tibalah Gocar ke depan rumah saya. Dengan badan lemas, saya berangkat ke rumah sakit terdekat tanpa membawa apa-apa kecuali handphone. Tibalah di Rumah Sakit Oetomo, lokasinya di depan Podomoro persis. Langsung dilarikan ke IGD sambil naik kursi roda karena posisi saat itu sudah sangat lemas. Kondisi saat itu udah gak kebayang apa-apa, lemes, penglihatan muter-muter, dan ya pengen rebahan aja.

Terukir sejarah baru juga, pertama kalinya dalam hidup, saya diinfus. Sebelumnya tidak pernah sama sekali. Jujur takut ngeliat jarum suntik. Sebenernya pas di ruang IGD juga takut kalau disuruh diinfus. Tapi mau gimana lagi, kondisi udah “sekarat” yang penting mah bisa sembuh mau itu disuntik atau apapun itu.

Setelah infus masuk, badan mulai terasa ada perbedaan. Entah kenapa langsung lebih tenang, ya walaupun masih terasa getar. Getar karena demam, juga getar karena ditusuk jarum infus wkwkwk. Subuh itu saya tidur di kasur IGD, lumayan tidur beberapa jam sambil nunggu obat infus habis. Setelah habis badan saya juga terasa sedikit lebih enak. Kala itu tidak dicek lebih lanjut sama dokter dan diperbolehkan rawat jalan alias balik rumah.

Eh, setelah sampai di rumah, bukannya segar malah drop lagi. Dan ini dropnya sama parahnya kayak tadi pagi. Karena sudah dicap ada yang gak beres akhirnya papap dan saya balik lagi ke rumah sakit. Sore itu papap minta untuk saya rawat inap. Disitu saya berpikir, “kalau rawat inap, bisa-bisa tidak ikut PKKMB.” Tapi itu pikiran sepintas, karena posisi masih lemes gamau pikirin apa-apa dulu.

Setelah di IGD langsung saya diantarkan ke kamar pakai kursi roda. Benar-benar pusing banget, lemas juga, saat itu ditanya perawat yang nganterin aja saya jawabnya gatau sadar atau nggak wkwkwkwk. Setibanya di kamar, langsung ditancap jarum infus lagi, kali ini beda tangan. Sebelum tidur saya masih kepikiran atribut PKKMB saya yang masih belum siap. Karena pikirnya sembuh cepat, jadi masih dipikirin tuh urusan ospek, padahal kondisi saat itu melek aja lemes.

Day 1 – 30 Agustus 2024 – Rating Kondisi (5/10)

Hari pertama di ruang inap langsung tidur. Saya sebenarnya lupa apa yang terjadi di hari itu. Yang saya ingat pertama saya diambil darahnya untuk diperiksa dokter, dan hal kedua yang saya ingat saya buka hp untuk foto kamar saat saya lagi tidur. Tujuannya buat bukti kalau saya sakit bukan sembarang sakit. Dan juga mungkin papap sudah telepon ibu, Vivian, dan juga keluarga yang lain tentang kondisi ku. Mungkin juga sudah kabarin via chat Telegram tapi saya sudah habis tenaga untuk membukanya.

Day 2 – 31 Agustus 2024 – Rating Kondisi (4/10)

Hari itu full tidur, bangun hanya untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Baru bangun dari kasur itu malam hari jam 9. Malam itu perut rasanya lapar, karena makanan rumah sakit pada dasarnya hambar jadi pengen ngemil. Malam itu juga dikabarkan oleh dokter kalau saya positif DBD. Dan trombosit saya menurun sudah di bawah 100,000 yang normalnya itu di atas. Deg, kaget pokoknya. Karena papap mungkin sudah pengalaman merasakan DBD jadi lebih aware dari sebelumnya. Lah, aku, belum pernah sama sekali jadi kayak aneh rasanya.

Day 3 – 1 September 2024 – Rating Kondisi (3,5/10)

Hari itu, hari pertama PKKMB Telkom University tahun 2024 dimulai. Sehari sebelumnya saya izin ke LO kelompok kalau saya tidak bisa ikut DBD karena positif DBD. Saya sudah kasih surat izin pribadi, begitu juga surat izin dari dokter langsung.

Kemungkinan alur penyakit DBD itu jika saya pelajari kurang lebih selama seminggu. 2 hari pertama memang lemas, tapi tidak lebih lemas dibanding hari 3-5. Dan ternyata benar, masuk hari ketiga level lemasnya beda. Kirain kemarin itu udah paling lemas, ternyata belum. Lidah sudah tidak bisa merasakan apa-apa, semua makanan hambar. Minum yang berasa juga aneh. Trombosit sudah menyentuh angka 80ribu. Dan gilanya di hari ketiga itu saya sempat buka laptop untuk cek penugasan PKKMB hari pertama :p. Ditambah sempat nonton MotoGP pakai televisi kamar, dan saya ingat waktu itu Marquez yang menang wkwkwk. Udah tau kondisi makin buruk, ini masih sempat buka laptop, nonton MotoGP pula.

Day 4 – 2 September 2024 – Rating Kondisi (Kacau/10)

Hari keempat ini, saya tidak ingat sama sekali apa yang terjadi. Tidak ada riwayat foto di galeri saya pada hari itu. Kalau saya scroll Telegram chat, di hari itu sudah ada mbah kakung, mbah uti, dan ibu yang datang ke Bandung. Tapi justru papap yang pulang ke Bekasi. Karena di waktu yang bersamaan, Vivian juga sakit yang lumayan parah, dan harus dirawat juga sama seperti saya. Kalo bahasa jaman sekarang, ‘ini bocah FOMO amat’. Ikut-ikutan aja sakit kayak abangnya. Suhu saya sudah menurun sedikit menjadi 39,4, setelah dikasih paracetamol menurun lagi jadi 37,8. Lebih baik? Tidak. Karena suhu menurun, trombosit juga menurun wkwkwk. Trombosit jadi 60,000-70,000 kalau tidak salah. Dan malam itu saya dibilang gelisah minta minum. Orang yang terkena DBD itu memang harus banyak minum. Karena pada dasarnya demam itu mengambil kadar air di tubuh kita, sepengetahuan saya.

Di hari ini waktu terasa panjang banget. Tidur nggak nyenyak, badan rasanya nggak segar. Gimana nggak, saya tidak mandi sama sekali saat DBD. Kena angin dikit aja mengigil, gimana air. Di hari yang sama ada tukang yang datang ke rumah untuk memasang kawat penghalang nyamuk. Malamnya menuju day 3, saya tidur lebih nyenyak dibanding sebelumnya. Hanya saja terbangun untuk buang air kecil sekali. Hal yang paling jadi tantangan saat DBD yaitu buang air. Karena pertama harus jalan dari kasur dengan kondisi tangan terinfus. Lalu diwanti-wanti sama dokter, kalau sampai air kencingnya itu merah, itu bahaya. Alhamdulillah selama DBD tidak terjadi hal itu. Karena jika terjadi itu, digadang-gadang ada kebocoran pembuluh darah. Lah kan serem amat, saya yang denger itu makin lemes. Apalagi saya sebenarnya takut darah, jadi kalo berkaitan darah walaupun cuman mendengar takut banget, apalagi kalo lihat secara visual.

Day 5 – 3 September 2024 – Rating Kondisi (3/10)

Pagi itu suhu saya berangsur menurun, menjadi 37 derajat. Ya kabar baik lah untuk kondisi saya. Ada satu foto isinya foto tangan saya lagi diinfus, menandakan kalau di hari itu saya sudah bisa pegang handphone lagi. Di hari yang sama bertambah lagi personil yang sakit, yaitu Ibu. Kayaknya sekeluarga pada FOMO ini. Alhamdulillahnya, Vivian dan Ibu nggak separah saya, bukan DBD juga.

Di hari itu kedatangan Om Adul dari Tambun, buat menemani saya di rumah sakit. Mbah Uti dan Ibu harus pulang ke Bekasi, meninggalkan Mbah Kakung, Om Adul, dan saya bertiga di Bandung. Badan terasa mulai lebih rileks dibanding hari sebelumnya. Saya juga sudah bisa chattingan di Telegram mengabari keluarga di Bekasi. Karena sudah gak tahan sama makanan rumah sakit, alhasil saya pesan makanan dari aplikasi online. Kalau gak salah pesan Imperial Kitchen, pesan ikan dori sama sup jagung. Yaa, masih tetap hambar tapi at least ada sedikit rasa dibandingkan makanan rumah sakit lainnya.

Day 6 – 4 September 2024 – Rating Kondisi (2,5/10)

Mungkin ini puncaknya dari DBD saya. Trombosit saya menyentuh 48 ribu, tensi 100/60, suhu masih 37 derajat. Sudah sangat bahaya untuk DBD. Kondisi saat itu terasa mual, dan kembali lagi saya tidur seharian. Hanya ada satu foto di galeri saya yakni muka saya pake filter “roblox”, entah saya foto pake aplikasi apa tapi ada di galeri handphone saya.

Oh iya, di hari ini juga terjadi hal yang bikin ketakutan saya makin meningkat. Jarum infus di tangan saya bocor, jadi darahnya berceceran ke baju dan kasur. Itu rasanya sudah mau pingsan kali, liat darah setetes aja takut, ini darah banyak bocor. Karena waktu tidur saya tidak sadar posisi tangan saya tidak benar, yang mengakibatkan kebocoran di infusnya. Langsung pencet bel untuk memanggil suster, dengan sigap langsung membenarkan itu semua. Dan juga saya bersih-bersih pertama kalinya setelah 6 hari tidak mandi wkwkwk. Itu kalo dideskripsikan, muka saya kusam parah. Badan gatal karena bintik merah yang terjadi akibat demam berdarah, dan itu dilarang keras untuk digaruk. Juga badan bau, jelas ini mah.

Day 7 – 5 September 2024 – Rating Kondisi (3,5/10)

Mungkin hari itu jadi titik pertama kondisi mulai membaik. Ditandai dengan kenaikan trombosit jadi 50 ribu. Ya, walaupun hanya naik 2 ribu saja dari sebelumnya sih, tapi at least naik dah pokoknya. Saat itu kerjaan saya cuman tidur, bangun makan, toilet, tidur lagi.

Saya ingat hari itu saya minta pesan steak dari ojek online, entah kenapa lagi pengen makan steak di hari itu. Dan di hari itu makan mulai terasa enak, sambil video call dengan bulik di Bekasi saya makan sampai habis steak itu, padahal kalau makan sebelumnya biasanya tidak sampai habis.

Day 8 – 6 September 2024 – Rating Kondisi (6/10)

Hari itu saya senang sekali, karena trombosit saya berangsur naik. Dan di hari itu juga, dokter bilang ke saya, “Karena kondisinya membaik, dan trombosit sudah naik, boleh rawat jalan.” Langsung nyengir saya di kasur itu. Kata dokter walaupun trombosit masih di bawah batas wajar orang normal, tapi itu akan berangsur naik seiring berjalannya waktu. Dengan syarat saya harus minum yang banyak, jaga pola makan, dan istirahat cukup.

Di hari itu lidah saya juga sudah mulai berfungsi normal. Ya, gak 100% normal tapi mulai bisa merasakan lah. Di hari itu saya mulai bersih-bersih badan, cek berat badan turun hampir 6 kilogram. Ya gimana nggak turun, makan aja susah, susahnya karena semua makanan gak ada rasanya. Tapi pada akhirnya berat badan naik lagi tidak ada 2 bulan di Bandung hehe.

Day 9 – 7 September 2024 – Epilog

Setelah seminggu di kamar rumah sakit, rumah terasa beda banget. Banyak yang berubah selama saya berbaring di rumah sakit. Mulai dari ditanam bunga lavender, diberi jaring penghalang nyamuk, dan juga rumput liar di taman dipotong. Hari itu saya bukan istirahat langsung, tapi saya edit video. Edit video untuk teman saya di Australia. Sebenarnya saya seharusnya mulai edit di akhir Agustus kemarin. Tapi karena saya DBD alhasil ditunda selama seminggu. Di hari yang sama akhirnya saya bisa kembali beraktivitas normal lagi. Discord pertama kali bareng teman setelah seminggu off, makan Mie Gacoan juga wkwkwkwk. Pokoknya balas dendam lah.


Saya tulis ini sebagai pengingat. Pengingat bagi siapapun itu, dengan tujuan antisipasi jika terjadi DBD seperti saya. Pesannya hanya satu, jangan overthinking. Pikirkan yang bener-bener aja udah. Kalo dipikirin yang aneh-aneh, itu kebawa di otak kita, ngaruh ke kondisi tubuh kita. Positif aja pikiran kita, isi dengan semangat, otomatis tubuh kita merespon semangat itu. Seminggu yang panjang merubah pola hidup saya, rasanya lebih sehat semenjak itu. Saya semakin sering olahraga, pola makan dan minum lebih teratur, dan juga kebersihan. Mungkin hal yang menurut kita kecil bisa menjadi sesuatu yang besar, begitu juga DBD ini. Siapa yang sangka, siapa yang mau juga sebenarnya. Maka dari itu, mulai dari hal kecil, mitigasi risiko yang ada. Dan yang pasti perbanyak ilmu kesehatan, karena pada dasarnya sangat penting.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest episodes