1) A New Start: Choosing Telkom University

Perjalanan saya di Administrasi Bisnis sebenarnya dimulai dari keputusan besar. Saya sempat diterima di Administrasi Bisnis International President University dengan beasiswa 75%. Tapi setelah banyak pertimbangan, saya memilih untuk menolak tawaran itu dan mendaftar di Telkom University Bandung, jurusan Administrasi Bisnis International Class. Sejak saat itu, saya resmi jadi “warga Bojongsoang”, dan mulai hidup dengan ritme baru sebagai mahasiswa rantau.
2) 2024: A New Level in My Life

Tahun 2024 terasa seperti pintu masuk ke pengalaman yang levelnya jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Bukan cuma soal kuliah, tapi juga tentang adaptasi: lingkungan baru, teman baru, budaya kampus yang beda, dan rutinitas yang benar-benar berubah. Saya merasa ini bukan sekadar “masuk kuliah”, tapi masuk ke fase hidup yang baru.
3) The Unexpected: DBD Before PKKMB

Sayangnya, awal semester saya bukan awal yang mulus.
H-2 sebelum PKKMB Telkom University, saya mendadak didiagnosis DBD (Demam Berdarah). Saya baru bisa menebak penyebabnya dari beberapa hal: rumah kontrakan yang masih perlu banyak dibersihkan, taman kecil di depan rumah dengan rumput liar yang cukup tinggi, dan kamar saya yang punya semacam celah langsung ke luar, kemungkinan nyamuk masuk dari situ. Ditambah lagi, udara malam Bandung waktu itu dingin banget.
Di momen yang sama, saya juga sempat ikut “first meet” bareng teman kelompok PKKMB. Karena motor saya baru dikirim via cargo dari Bekasi dan bensinnya habis, saya berangkat naik sepeda. Melewati Bojongsoang yang chaos sore hari: macet, asap truk, dan saya merasa jadi “orang asing” karena itu pertama kali saya benar-benar menjelajahi area kampus.
Menjelang maghrib, saya sudah ngos-ngosan. Saya sempat berhenti di Indomaret Podomoro buat minum teh kotak dan ambil napas, lalu lanjut pulang sekitar 1,5 km. Sampai rumah, saya makan bebek goreng pakai sambal (pesan online), dan malamnya masih sempat main Valorant beberapa match.
Tapi setelah itu badan mulai aneh: kepala pusing, menggigil, dan suhu badan naik tinggi. Saya panik karena ini nggak biasa. AC dimatikan, selimut tebal dipakai, jaket dipakai, tapi tetap tembus dingin. Saya langsung panggil papap yang tidur di lantai 2 untuk cek suhu tubuh, ternyata 40 derajat.
Sempat mendingan siangnya, tapi begitu sampai rumah saya drop lagi dan akhirnya dirawat inap. Dokter memastikan saya terkena DBD dan saya diminta full bed rest, sehingga saya tidak bisa ikut PKKMB. Untuk cerita DBD yang lebih detail, saya akan buat di artikel terpisah.
4) Back to Campus: PKKMB International Class

Saya izin sekitar 5 hari tidak ikut PKKMB. Setelah kondisi membaik, saya datang di momen first meet PKKMB International Class. Jadi walaupun saya banyak ketinggalan rangkaian PKKMB umum, saya masih mengikuti rangkaian khusus untuk anak International Class.
Jujur, waktu itu agak canggung karena teman-teman lain sudah lebih dulu kenal. Tapi ada momen lucu: ada satu orang yang langsung nyapa dan ngenalin saya duluan, padahal saya sendiri belum tahu namanya siapa. Sekarang malah sudah kenal dan jadi teman juga.
LO saya waktu PKKMB International namanya Kak Kanon, beliau dari Bangladesh dan kuliah di Telkom. Saya jadi merasa ini pengalaman internasional “beneran”, karena lingkungannya sangat beragam.
5) 12 September 2024: The First Day I Joined PKKMB

Hari pertama saya ikut PKKMB adalah 12 September 2024, rangkaian PKKMB Fakultas lanjut PKKMB Prodi. Jam setengah 6 pagi saya sudah ada di lapangan depan gedung FEB. Saya diminta sarapan dulu, dan saya makan bekal dari rumah. Kalau tidak salah ikan salmon dan nugget.
Setelah itu kami disuruh naik ke lantai 5 menuju aula, tapi naiknya pakai tangga. Tas saya berat banget, dan karena baru pulih dari DBD, rasanya ngos-ngosan parah.
Di dalam aula, ada dosen yang marah karena ada mahasiswa yang dianggap “tengil”. Alhasil, satu aula disuruh squat jump pakai tas. Dalam hati saya cuma bisa bilang: “Ini saya baru sembuh…” Tapi Alhamdulillah, tubuh saya masih kuat dan nggak ada efek buruk setelahnya.
6) 13 September 2024: Officially a Telutizen

Besoknya, 13 September 2024, saya mengikuti rangkaian terakhir: Sidang Senat Terbuka di TUCH (Telkom University Convention Hall), semacam pengesahan resmi bahwa saya adalah mahasiswa Telkom, alias telutizen.
Saya standby lagi jam setengah 6 pagi. Saya baru dapat almamater dari LO umum (bukan Kak Kanon), karena harusnya saya dapat dari rangkaian sebelumnya yang saya lewatkan saat sakit.
Jujur, acaranya cukup boring dan bikin ngantuk. Apalagi ada DMT (Discipline and Motivational Team) yang tugasnya marah-marahin mahasiswa. Ada yang ngantuk dimarahin, main HP dimarahin, pokoknya harus fokus dengar seminar dan speech.
7) The Ending That Was… Not Fair

Setelah semua rangkaian selesai, ternyata saya tidak diluluskan PKKMB.
Masalahnya, data izin saya tidak ter-recap dengan benar. Saya sudah izin resmi karena DBD, tapi tetap dianggap “alpha”. Padahal tugas-tugas PKKMB juga sudah saya kerjakan ketika saya masih di rumah sakit.
Rasanya jujur agak kesel, karena masa iya orang sakit DBD tetap harus ikut PKKMB yang padat begitu. Harusnya ada kompensasi atau sistem yang lebih manusiawi. Tapi ya sudah, info terbaru: saya hanya perlu ulang penugasan saja tahun depan, bukan mengulang seluruh rangkaian dari awal.





Leave a Reply to A WordPress Commenter Cancel reply