Awalnya sederhana. Saya cuma memperhatikan desktop laptop teman sekelas di kampus. Isinya folder-folder. Rapi. Terstruktur. Tidak ada file acak berserakan. Entah kenapa, kesannya langsung berbeda. Bukan terlihat sok rajin, tapi terlihat siap. Dari situ saya kepikiran, hal sekecil ini ternyata bisa memberi kesan yang bagus.
Sering kali juga saya dikomen sama teman, “gila, itu tab chromenya banyak banget…” Dan dipikir-pikir iya juga, banyak banget tab di web browser saya. Kalau ditanya apakah itu penting semua, jawabannya iya dan nggak juga. Kadang sengaja nggak ditutup supaya nggak lupa apa yang sudah dikerjakan. Padahal ada fitur histori, tapi tetap saja sering kali tidak tutup tab kalau sudah selesai.
Akhirnya saya memutuskan untuk meniru. Bukan karena ada yang menyuruh, juga bukan karena ingin terlihat lebih rajin, tapi karena saya sendiri sering merasa lelah hanya untuk mencari file. Setiap buka laptop, pikiran sudah capek duluan sebelum mulai bekerja. Jadi saya mulai dari hal paling dasar: membuat folder dan memisahkan hal-hal yang selama ini tercampur.
Saya mengelompokkan folder kuliah semester 3 dan urusan kampus di satu sisi desktop. Setiap mata kuliah punya folder sendiri, Fintech, Strategi Bisnis, Taxation, Finance, Operations, Corporate Governance, hingga Personal Branding. Selain itu, ada juga folder khusus untuk hal-hal kampus Telkom. Dengan pemisahan sederhana ini, kuliah yang tadinya terasa menumpuk jadi lebih jelas. Setiap mata kuliah punya “ruangnya” sendiri. Mencari materi lebih cepat, dan mengerjakan tugas terasa lebih fokus.
Di bagian lain, saya membuat folder khusus untuk event yang sedang saya jalani (saat ini sudah selesai semua sih). Student Volunteer, ASPIRE 2025, Visit Company 2025, dan beberapa kegiatan lain saya kumpulkan di satu tempat. Folder ini rasanya berbeda dengan folder kuliah. Ini bukan arsip lama, tapi sesuatu yang sedang berjalan. Saat membukanya, saya langsung masuk ke mode event, mengingat koordinasi, timeline, dan tanggung jawab yang sedang dipegang.
Untuk pekerjaan, saya pisahkan lagi di bagian tersendiri. Folder Excellent Group, berbagai project, Project Portal Vavai, hingga screenshots kerja saya kumpulkan di area yang berbeda. Pemisahan ini ternyata sangat membantu. Kerja terasa lebih serius, dan tidak bercampur dengan urusan kuliah atau event. Setiap bagian punya ruangnya masing-masing.
Awalnya saya mengira semua ini hanya soal kerapian visual. Ternyata efeknya lebih dari itu. Saya jadi lebih mudah berpindah fokus, dan tidak lagi bingung harus mulai dari mana saat membuka laptop. Folder tidak membuat saya jadi lebih pintar, tapi membuat saya lebih siap.
Lama-lama saya sadar, manajemen folder bukan sekadar soal file. Ini tentang cara melihat dan mengatur apa saja yang sedang dijalani secara bersamaan. Kuliah, event, dan pekerjaan. Desktop laptop saya akhirnya seperti cermin kecil yang menunjukkan prioritas dan tanggung jawab saya saat ini. Dan mungkin, sebelum hidup terasa lebih rapi, yang perlu dirapikan terlebih dahulu memang hal paling sederhana: folder di desktop laptop.





Leave a Reply