Di bulan Ramadhan kemarin, gua lagi sering main Roblox. Game yang lagi gua mainin game santai, yaitu Farming and Friends. Iya, sesuai namanya, bertani. Sebenarnya gua udah tau game itu dari 2022, diajak teman buat main. Dulu gamenya memang nggak sebagus itu. Lighting-nya masih kurang, gameplay-nya terbatas, dan overall rasanya belum terlalu niat. Tapi sekarang udah banyak improvement, jadi lebih enak dilihat dan lebih seru dimainkan.

Gamenya tergolong gampang, tutorialnya juga simpel. Yang bikin nagih justru karena game ini tipe game yang “grinding”. Maksudnya, untuk beli properti atau benih yang lebih mahal, kita harus jual hasil dari benih yang ada dulu. Jadi nggak bisa langsung besar. Harus pelan-pelan, nanam dulu, panen dulu, jual dulu, baru berkembang. Dan entah kenapa, justru model kayak gitu yang bikin seru. Ada rasa puas waktu lihat progressnya naik sedikit demi sedikit.

Yang menarik, walaupun ini cuma game, ternyata ada rasa familiar buat gua. Mungkin karena temanya pertanian, jadi waktu main tuh ada bagian yang bikin gua mikir, “Oh iya, di dunia nyata juga nggak jauh beda.” Di game, kita ngelihat lahan kosong lalu mulai mikir mau tanam apa, kapan panen, gimana supaya hasilnya cukup buat upgrade. Di real life pola pikirnya juga mirip. Memang dunia nyata jauh lebih kompleks, karena ada cuaca, kualitas tanah, air, hama, tenaga kerja, dan banyak hal yang nggak bisa dikontrol sepenuhnya. Tapi inti dasarnya tetap sama saja, mulai dari yang ada, jalani prosesnya, lalu tunggu hasilnya.

Lucunya, game ini juga bikin gua kepikiran satu hal, banyak orang suka konsep bertani kalau dikemas dengan fun dan ringan. Makanya farming game dari dulu selalu ada aja yang suka. Siklusnya sederhana, tapi satisfying. Dan mungkin itu juga alasan kenapa dunia pertanian di real life sebenarnya punya daya tarik besar, cuma kadang tampilannya kalah menarik dibanding dunia digital.

Mungkin karena itu gua suka Farming and Friends. Dia santai, nggak ribet, tapi tetap bikin mikir. Dan buat gua pribadi, game ini jadi menarik bukan cuma karena gameplay-nya, tapi karena ada koneksi kecil dengan real life. Walaupun satu bentuknya digital dan satu lagi tanah beneran, dua-duanya sama-sama ngajarin bahwa hasil itu datang dari proses.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest episodes