Kalau di postingan sebelumnya gua lebih banyak cerita soal habit dan sistem nulis, pada kali ini gua mau ngomongin sesuatu yang lebih subtle. Perubahan gaya bahasa. Karena jujur aja, kalau baca beberapa tulisan lama gua, rasanya… formal banget. Kaku. Terlalu rapi. Kayak lagi bikin laporan, bukan lagi cerita.
Gua mulai aktif nulis artikel lagi di tahun 2026 ini. Sebenarnya ini bisa dibilang “sunah” dari kerjaan di kantor, karena di kantor memang dianjurkan punya blog pribadi. Dulu banget, tahun 2016, gua pernah bikin blog juga. Itu pertama dan terakhir kalinya. Isinya cerita liburan ke Dieng, kalau nggak salah ada dua part. Lah, “kalau nggak salah”? Iya. Karena sekarang aksesnya udah hilang. Entah lupa password, entah emailnya ke mana. Jadi blog pertama gua itu hilang begitu aja, kayak jejak digital yang nggak sempat berkembang.

Tahun ini rasanya beda. Gua nggak mau cuma sekadar punya blog. Gua mau blog ini hidup. Dan salah satu hal yang gua ubah adalah cara nulisnya. Dulu mungkin gua mikir tulisan harus terdengar pintar. Harus formal. Harus terstruktur banget. Padahal makin ke sini gua sadar, tulisan yang enak dibaca itu bukan yang paling baku, tapi yang paling jujur. Yang terasa kayak lagi ngobrol.
Makanya sekarang gua lebih santai. Lebih pakai “gua”, bukan “saya”. Lebih berani masukin humor kecil. Lebih berani nulis apa adanya. Karena blog ini bukan jurnal ilmiah. Ini ruang pribadi. Tempat gua mikir, refleksi, dan cerita. Dan ternyata, ketika gaya bahasanya berubah jadi lebih santai, nulisnya juga terasa lebih ringan.
Mungkin perubahan ini kecil. Cuma soal diksi dan tone. Tapi buat gua ini bagian dari proses menemukan suara sendiri. Karena setiap orang bisa nulis. Tapi nggak semua orang langsung nemu cara nulis yang terasa “dia banget”. Dan mungkin Ramadhan 2026 ini bukan cuma soal konsisten 30 hari, tapi juga soal menemukan versi tulisan yang paling nyaman buat gua sendiri.




Leave a Reply